Langkah Kecil Yang Bermakna
Oleh : Samudera Dwija
Aku adalah guru muda yang baru saja diangkat di sebuah sekolah cukup maju di tengah kota. Dengan semangat membara, aku datang membawa bekal pengalaman sebagai pengajar sukarelawan di sebuah sekolah kecil di desa, serta ilmu pedagogik yang kudapatkan selama bertahun-tahun di bangku kuliah. Namun, kenyataan di tempat baru ini tidak seindah yang kubayangkan.
Sejak hari pertama, aku merasakan hawa dingin dari para guru senior. Senyumku yang tulus saat menyapa mereka hanya dibalas dengan anggukan singkat, atau bahkan tatapan skeptis. Bisik-bisik mulai terdengar di sudut-sudut ruang guru. “Anak kemarin sore,” kata mereka. “Paling cuma bisa main laptop sama gadget.”
Awalnya, aku merasa kecil hati. Rasanya seperti berjuang sendirian di tengah gelombang besar. Tapi, aku berusaha mengingat kembali alasan mengapa aku memilih jalan ini. Aku ingin membuat perbedaan, meski kecil, dalam kehidupan anak-anak yang kutemui.
Suatu hari aku mengajar kelas lima. Tema pelajarannya adalah tentang energi terbarukan, topik yang biasanya dianggap membosankan oleh anak-anak. Aku memutuskan untuk mencoba pendekatan baru. Menggunakan proyektor, aku menampilkan video interaktif tentang tenaga surya dan angin. Aku juga membawa miniatur turbin angin buatan sendiri yang pernah kubuat saat menjadi sukarelawan.
“Pak Guru, ini mainan ya?” tanya seorang anak bernama Raka.
Aku tersenyum. “Bukan, Raka. Ini adalah cara sederhana untuk menunjukkan bagaimana angin bisa menghasilkan listrik. Yuk, kita coba bersama-sama!”
Anak-anak langsung antusias. Mereka berebut meniup turbin mini itu untuk melihat baling-balingnya berputar. Tawa mereka memenuhi kelas, dan aku melihat mata mereka berbinar-binar. Sebuah pemandangan yang membuat semua lelahku terasa hilang.
Namun, di ruang guru, aku kembali mendengar komentar sinis. “Lihat, mengajar saja pakai mainan. Kalau begini terus, anak-anak hanya akan bermain tanpa belajar,” kata seorang guru senior dengan nada mencibir.
Aku menahan diri untuk tidak membalas, aku tidak ingin membuktikan apapun hanya aku ingin bahwa guru muda tidak selamanya pandai bermain laptop dan gadget saja tapi bisa berinovasi dalam mengajar. Sebagai gantinya, aku memutuskan untuk membuktikan bahwa metode yang kugunakan bukan sekadar bermain-main. Aku mengajak para siswa untuk membuat proyek kecil. Dengan bahan-bahan sederhana seperti karton, baling-baling plastik, dan dinamo kecil, mereka diajak membuat model pembangkit listrik tenaga angin. Aku juga memberikan tugas kelompok untuk mempresentasikan hasil karya mereka di depan kelas.
Saat hari presentasi tiba, kelas berubah menjadi panggung kreativitas. Ada yang membuat model turbin dengan desain unik, ada pula yang mencoba memasang lampu kecil untuk menunjukkan bahwa model mereka bisa menghasilkan listrik. Anak-anak terlihat bangga dengan karya mereka, dan aku tak bisa menahan senyum bahagia melihat mereka begitu antusias.
Untuk pelajaran IPS materi tentang sejarah kerajaan Hindu, aku mencoba pendekatan berbeda lagi. Kali ini, aku berperan sebagai Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Dengan penuh semangat, aku memulai pelajaran dengan mengenakan selendang merah yang kujadikan simbol seorang pemimpin. Aku menggambarkan bagaimana Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tar-tar dengan strategi cerdas dan keberanian yang luar biasa.
“Hai, kalian tentara Tar-tar!” seruku dengan suara lantang, sambil memasang gestur penuh percaya diri. “Ini tanah Nusantara! Tidak ada tempat bagi penjajah di sini!”
Anak-anak terpana melihatku beraksi. Mereka terlihat sangat terlibat, seolah-olah berada di medan perang bersama Raden Wijaya. Dengan gestur dan mimik yang kutampilkan, aku menggambarkan betapa gigihnya perjuangan pasukan Nusantara di bawah kepemimpinan Raden Wijaya.
Ketika aku menceritakan bagian di mana Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit setelah kemenangan gemilangnya, anak-anak bersorak. “Wow, hebat sekali Raden Wijaya!” kata seorang siswa. “Aku ingin menjadi pemimpin seperti dia!”
Di akhir pelajaran, aku meminta mereka untuk menuliskan kesan mereka tentang tokoh Raden Wijaya dan apa yang bisa mereka pelajari dari perjuangannya. Hasilnya luar biasa. Mereka tidak hanya memahami materi sejarah, tetapi juga menangkap nilai-nilai keberanian, kecerdasan, dan cinta tanah air.
Hari itu, aku menyadari bahwa cara menyampaikan pelajaran dengan penuh semangat dan kreativitas bisa menghidupkan materi yang mungkin terasa kaku di buku teks. Dan sekali lagi, aku merasa yakin bahwa aku berada di jalan yang benar. Aku mungkin “anak kemarin sore,” tapi aku percaya bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang bisa tumbuh dengan pendekatan yang tepat.
Sebenarnya aku tidak ingin menonjolkan diri sebagai guru muda di antara penilaian negatif teman-teman senior. Namun, kepala sekolah selama ini mengamati aku dalam mengajar. Pertama, ia memberiku peran kecil untuk menjadi pembawa acara dalam pertemuan wali murid serta mempersiapkan slide presentasi dalam pertemuan itu. Tugas itu dapat aku laksanakan dengan baik, dan kepala sekolah nampak puas dengan usahaku.
Akhirnya, saat acara pelepasan sekolah, aku diberi tanggung jawab untuk membuat sebuah pementasan yang belum pernah dilakukan di sekolah. Tugas yang berat ini aku emban dengan membuat sebuah konsep pementasan drama musikal. Aku menyeleksi anak-anak yang bisa bernyanyi serta memiliki bakat teater untuk aku latih dalam pementasan drama musikal yang berjudul “Ponari Ingin Sekolah” yang naskahnya aku buat sendiri.
Sarana musik yang ada di sekolah adalah seperangkat karawitan yang biasanya hanya menampilkan lagu-lagu dolanan. Kali ini, pelatihnya aku ajak berkolaborasi menggarap sebuah drama musikal berbasis seni tradisional. Aku tawarkan konsepnya, dan pelatih setuju bersamaku untuk menggarap proyek ini. Proyek ini aku kerjakan kurang lebih selama 3 bulan. Tentunya aku mengajak juga guru senior yang gemar dengan karawitan untuk membantuku mengolah vokal siswa dan menata busana, tata rias dan dekorasi. Siswa yang aku libatkan hampir ada 30 orang dari kelas 4 hingga kelas 6.
Rencana proyek ini lambat laun membuka pintu para guru senior untuk mendukungku. Inilah langkah kecil yang aku buat untuk bisa saling mendukung, saling asah, dan saling asuh dalam mendidik siswa. Saat pementasan tiba, anak-anak mampu menampilkan performa yang memikat penonton. Semua memainkan totalitas yang tinggi, dan tepuk tangan penonton sampai akhir pementasan mengiringi kami. Setelah selesai acara, kami semua saling berangkulan. Tidak ada lagi guru senior maupun yunior. Semua satu visi membangun negeri dengan pendidikan yang baik.
Pementasan drama musikal itu membawa perubahan yang tak terduga bagi dinamika di sekolah. Anak-anak yang biasanya pemalu kini terlihat lebih percaya diri, bahkan ada yang mulai menunjukkan minat untuk berkarya di bidang seni. Tak hanya mereka, para guru senior yang sebelumnya skeptis terhadap pendekatan baruku mulai melibatkan diri lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang kreatif.
Satu minggu setelah pementasan, kepala sekolah memanggilku ke ruangannya. Aku sempat gugup, mengira ada sesuatu yang kurang berkenan. Namun, senyumnya yang hangat segera meredakan kecemasan itu.
“Pak Guru, saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda. Pementasan drama musikal kemarin tidak hanya membanggakan sekolah kita, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi kita semua. Anda telah membuktikan bahwa pendidikan adalah soal kolaborasi dan inovasi,” katanya.
Aku hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Namun, yang mengejutkan adalah ketika kepala sekolah melanjutkan, “Saya ingin mengusulkan agar konsep pembelajaran berbasis seni ini menjadi bagian dari program unggulan sekolah kita. Saya rasa pendekatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain juga.”
Aku tak percaya dengan apa yang kudengar. Mengintegrasikan seni dalam pembelajaran memang menjadi mimpiku sejak lama, tapi aku tak pernah menyangka bahwa langkah kecilku akan membuahkan dampak sebesar ini.
Tidak lama setelah itu, aku diminta untuk menyusun program kegiatan ekstrakurikuler berbasis seni tradisional dan modern. Aku mengajukan ide untuk menggabungkan seni karawitan dengan teknologi digital, seperti membuat komposisi musik tradisional yang dilengkapi elemen elektronik yang istilahnya adalah music campursari . Kepala sekolah menyukai gagasan itu dan memberikan dukungan penuh.
Kegiatan ekstrakurikuler ini pun berjalan sukses. Anak-anak yang dulunya kurang tertarik dengan seni tradisional kini mulai antusias mengikuti pelatihan karawitan yang dikemas secara modern. Bahkan, sekolah kami berhasil menjuarai lomba seni tingkat kota dengan menampilkan sebuah karya karawitan yang berpadu dengan musik elektronik sederhana.
Perubahan positif ini juga memberikan dampak pada hubungan antar guru. Aku merasa diterima sebagai bagian dari tim yang solid. Kami mulai sering berdiskusi dan saling berbagi ide untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar. Ini tentang menciptakan ruang bagi setiap orang untuk berkembang, baik murid maupun rekan kerja. Langkah kecil yang kupikir tak berarti ternyata bisa menjadi jembatan menuju perubahan besar. Dan, itulah yang terus memotivasiku untuk tetap berjalan di jalan ini, membawa semangat baru dalam setiap langkahku.
